Langsung ke konten utama

Maaf

Maaf
Mungkin kata itu yang ingin kuucapkan saat ini
Aku ingin meminta maaf atas segala yang telah dan mungkin akan kulakukan nanti
Aku ingin meminta maaf juga, atas kehadiranku yang mengganggu hidupmu

Aku ingin meminta maaf karena aku telah menginginkan cintamu
Aku sadar, aku terlalu banyak berharap untuk itu
Namun aku juga sadar, mungkin memang aku tidak memiliki tempat di hatimu
Entah karena usahaku yang kurang, ataupun memang karena hatimu yang memang bukan untukku

Sekali lagi aku ingin meminta maaf
Karena aku telah mencintaimu dengan begitu rupa
Mungkin itu juga mengganggumu, karena kamu mungkin tidak menginginkanku
Aku menyesal atas segala usahaku yang mengganggu kehidupanmu

Kini, izinkanlah aku mencintaimu dengan cara yang lain
Izinkanlah aku mendoakanmu untuk bersatu dengan dia yang kamu inginkan
Dia yang memiliki tempat khusus di hatimu, dan juga dalam setiap buah karyamu
Karena hanya dengan cara itulah, aku dapat menunjukkan rasa cintaku kepadamu, walaupun rasa itu jugalah yang menyakiti diriku sendiri

"Mungkin bagi dunia kamu hanya seseorang, tetapi bagi orang lain kamu adalah dunianya"

Bekasi, 8 Januari 2015, 00.52
Ditulis dengan penuh penyesalan diri atas rasa cinta yang tumbuh
Untuk dia, sang "N" yang sempat kudambakan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Menikah, atau Tidak Sama Sekali

Ya, mungkin inilah pergumulanku yang paling dalam... Bahkan mungkin yang paling panjang... Bagi sebagian orang, mungkin ini perkara yang sangat sepele... Bahkan mereka pun berpendapat: "sudahlah, menikah saja, pernikahan itu indah kok" "Setidaknya, kamu tidak sendirian ketika tidur, dan ada yang merawatmu dengan baik" Namun hal itu tidak berlaku bagiku... Pernikahan adalah sesuatu yang suci dan sakral, bahkan terhormat... Bukan saja mencari "teman tidur", tetapi "teman seumur hidup"... Yang senantiasa menemani, bahkan bersama-sama mengarungi pasang-surut kehidupan ini... Bukan soal menikmati kesenangan seksual belaka, namun bertanggung jawab juga di dalamnya... Hal inilah yang membuatku berpikir berkali-kali... Untuk menikah, atau hidup sendirian saja Sebagai seorang "anak tunggal", tentulah aku memikul berbagai harapan kedua orangtuaku... Namun aku terlalu banyak melihat kegagalan hidup berumah tangga... Bahkan dala...

Terjepit

Terjepit... Mungkin kata itu adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan perasaanku saat ini Harapan dan niatku semakin tidak sejalan dengan realitas yang kuhadapi Ya, memang persoalan ini sudah berkali-kali aku hadapi Namun, entah mengapa, kali ini terasa sedikit berbeda... Ini bermula ketika aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan berpacaranku. Bukan karena alasan kehadiran orang ke-3, namun memang hubungan tersebut sudah "kurang enak" Banyak persoalan, bahkan perbedaan prinsip yang menyebabkan hal tersebut terjadi Tentunya, yang dilibatkan disini tidak hanya dua pihak, namun juga melibatkan keluargaku dan keluarganya Aku pun sudah bisa sedikit berdamai dengan peristiwa tersebut, namun bukan ini inti masalahnya. Keterjepitanku saat ini lebih kompleks daripada yang sebelumnya Memang tidak jauh dari persoalan berpacaran dan cinta, namun kali ini rasanya sangat berbeda Aku mengalami keterjepitan yang aneh Mulai dari terjepit karena situasi move on  yang k...